Asasunnajah header

Benarkah Kita Telah Mencintai Rasulullah?

3 komentar

Cara Mencintai Rasulullah

Suatu ketika sebuah pertanyaan muncul, "Benarkah kita telah benar-benar mencintai Rasulullah SAW?" Pertanyaan yang menarik jemariku untuk menari-nari diatas keyboard menggoreskan ulasan spesial dalam rangka menyambut bulan yang penuh dengan kebahagiaan. Bulan kelahiran sosok mulia, sebaik-baiknya idola yakni sang baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Sebagai penganut agama Islam, syariat telah mengajarkan kewajiban untuk mencintai Allah dan Rasulullah lewat salah satu sabdanya, 

Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai diriku (Rasulullah SAW) lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.

Bisa mencintai Rasulullah dengan sebenar-benarnya cinta adalah sebuah anugerah. Sebab tidak semua orang bisa merasakan rasa cinta yang juga menjadi tolak ukur kadar keimanan seseorang. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Rasulullah adalah orang yang sangat beruntung. Sebab seseorang akan dikumpulkan bersama dengan apa yang ia cintai. Dan betapa beruntungnya kelak jika ia dikumpulkan bersama manusia penyelamat dunia akhirat. 

Lalu bagaimana indikasi seseorang dikatakan telah mencintai Rasulullah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, aku jadi teringat lirik lagu berjudul "Muhammadku" yang dibawakan oleh Haddad Alwi. Lagu yang juga sering kuputar saat di kendaraan. Dalam lirik tersebut kita bisa menemukan jawabannya.

Muhammadku, Muhammadku, dengarlah seruanku
Aku rindu, aku rindu padamu, Muhammadku 
Kau yang mengaku cinta kepada Nabimu
Kau yang mengaku merindukan Nabimu
Jika kau benar-benar cinta dan rindu
Kepada Muhammad, Nabimu, buktikan!
Taati perintahnya, tinggalkan larangannya, teladani akhlaknya
Niscaya kelak kau akan berjumpa dengan Rasullullah
Niscaya kelak kau akan berkumpul dengan Rasullullah

Dari lirik diatas ada tiga point yang bisa menunjukkan bahwa seseorang bisa dikategorikan telah mencintai Rasulullah. Yaitu seseorang yang menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dan meneladani akhlaknya. Tiga point yang nampak simpel, namun butuh ikhtiar keras dalam mengamalkannya. Tiga point yang simpel namun bakal luas penjabarannya. 

Dari tiga point diatas, mari kita lihat apakah sudah ada pada diri kita? Jika sudah, beruntunglah telah mendapatkan anugerah rasa cinta kepada kekasihNya. 

Jika saat ini belum terasa, maka patutlah untuk bersedih. Sedih lantaran hati kita masih belum terpaut dengan sosok pemberi syafa'at kelak pada hari terberat yakni hari kiyamat. Hari dimana keluarga, kerabat, teman dekat sekalipun tak bisa lagi diandalkan kecuali mengharap syafa'atnya. Sedih lantaran kita masih jauh dari kriteria ummatnya. 

Walaupun demikian selama nyawa masih dikandung badan, masih ada kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta kita. Berharap kelak bisa masuk dalam barisan ummatnya, mendapat syafa'atnya hingga bisa berkumpul bersama-sama di tempat terindah di sisiNya. Allahumma amiiin. 

Cara Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Rasulullah

Sebagaimana rasa cinta pada sesama, ia tidak akan bisa tumbuh tanpa mengenal sosoknya. Sebagaimana pepatah yang lazim diulang-ulang dalam banyak kesempatan. 
Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta.

Rupanya berlaku pula pepatah ini pada baginda Rasulullah. Tak kenal maka kenalan, sebab banyak yang mengaku cinta, banyak yang mengaku ummatnya, namun banyak pula yang belum mengenal persis sosok beliau. (Sampai sini, aku pun merasa sadar diri)

Maka beberapa cara yang bisa dilakukan agar kita bisa meraih anugerah ini diantaranya :

  • Mengenal lebih dekat sosok beliau.

Bagaimana bisa kita mengenal sosoknya? Barangkali secara fisik saat ini kita tidak bisa berjumpa secara langsung, namun lewat membaca sirahnya terbukti akan mendekatkan kita pada sosoknya. Dengan mempelajari sejarah beliau dari kelahirannya hingga perjalanan dakwah beliau yang diwarnai dengan perjuangan yang berdarah-darah akan menumbuhkan kekaguman dan kerinduan tersendiri pada sosoknya. 

Jadi mulailah membaca buku/kitab tentang sirah nabawiyah, kitab yang menuliskan keindahan akhlak beliau, kitab yang memaparkan perjalanan dakwah beliau, dan lainnya.

  • Mendengarkan Sholawat

Percaya atau tidak mendengarkan lantunan shalawat yang berisi pujian atau sekelumit kisah beliau apalagi dengan nada yang syahdu, rasanya hati ini auto rindu. Cobalah sering-sering mendengarkan lantunan sholawat.  

  • Memperbanyak Membaca Sholawat
Kalian pasti sudah sering mendengar betapa besarnya fadilah/keutamaan membaca sholawat. Firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab [33] ayat 56. 
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Dahulu saat masih nyantri seringkali dijelaskan bahwa gambaran keutamaan  sholawat itu ibarat tumpahan air dari gelas yang diisi terus menerus. Tumpahan air inilah sebagaimana tumpahan rahmat Allah yang senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah yang akan kembali pada yang membaca shalawat. 

Dengan membaca sholawat selain mendapat keutamaan diatas juga keutamaan-keutamaan lain, berharap kelak akan mendapat syafa'atnya di hari paling berat, yakni hari kiyamat.

  • Mendekat Pada Para Pecinta Rasulullah
Para pecinta Rasulullah tentu saja orang-orang pilihan Allah. Mereka adalah orang-orang soleh. Mendekat dengan mereka akan menularkan rasa cinta pada Rasulullah. 
  • Napak Tilas Jejak Dakwah
Cara berikutnya adalah dengan napak tilas jejak dakwah beliau. Cara ini lumayan membutuhkan pengorbanan fisik dan moril. Namun selalu ada jalan jika kita mau mengusahakan. 
Mulailah menabung sedikit demi sedikit, niatkan untuk ziarah tanah haramain. Mudah-mudahan Allah segera taqdirkan untuk segera bisa menapaki jejak dakwah Rasulullah saw. Amin ya Allah.
“Janganlah (kalian) mengkhususkan melakukan perjalanan (jauh) kecuali menuju tiga masjid, (yaitu_ Masjidil Haram (Mekkah), Masjidku (Masjid Nabawi Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (Palestina).” (H.R. Bukhari-Muslim)

Mempelajari sejarah Rasulullah SAW di tempatnya secara langsung tentu ada sensasi tersendiri. Kita jadi auto membayangkan bagaimana pada masanya Rasulullah menjalani dakwahnya di tempat yang sama. Lalu membayangkan betapa beratnya kehidupan yang harus dilalui beliau pada masanya yang tak ada seujung kuku pun dengan yang kita rasakan saat ini.

Dengan begitu akan meninggalkan kesan mendalam tentang diri Rasulullah pada benak kita, sehingga tumbuhlah benih-benih cinta. 

  • Merayakan Maulid Nabi 

Jika ada yang mengatakan merayakan maulid nabi tidak ada dalilnya, maka coba sebutkan dalil merayakan ulang tahun diri sendiri. Begitulah sebuah pernyataan yang pernah saya baca di salah satu platform sosial media. 

Memang merayakan maulid nabi tak perlu didebat lagi, sebab ini bukanlah perayaan yang penuh dengan hura-hura maupun huru-hara. Ada banyak spirit yang melandasi perayaan ini, yaitu spiritual, moral, sosial, dan persatuan. Selain sebagai syi'ar islam merayakan maulid nabi juga merupakan momentum untuk menambah kecintaan kita terhadap nabi. Shollu 'alannabi .. 

Demikianlah sedikit cara sederhana untuk menumbuhkan rasa cinta kita pada Rasulullah SAW. Mudah-mudahan pada bulan Rabi'ul Awwal kali ini, Allah limpahkan anugerah bertambahnya rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW. Sehingga menjadi ringan bagi kita untuk menaati perintahnya, meninggalkan larangannya dan meneladani akhlaknya. Sehingga kelak kita diakui sebagai ummatnya dan mendapat syafa'atnya. Amiin ya Allah. 

Akhir kata, tak perlu sungkan untuk menambahkan tips lainnya ..

Asasunnajah
Seorang ibu tiga anak yang sedang gemar belajar menulis dan berjualan online. _Salam silaturahim_
Terbaru Lebih lama

Related Posts

3 komentar

  1. Pas sekali, bulan ini adalah Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semakin banyak belajar untuk menjadi umatnya yang baik sehingga mendapat syafaat beliau.

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    BalasHapus
  2. Lirik lagu nya parnah ku hafal, pada masanya, walau kata orang susah tapi aku hafal saking sukanya hihi

    BalasHapus
  3. manusia memang hobi berdebat, tapi tugas sejatinya malah diabaikan... hehe...
    terima kasih sudah berbagi dan mengingatkan

    BalasHapus

Posting Komentar