Asasunnajah header

Mengulik Buku Perempuan Bukan Sumber Fitnah

12 komentar

Perempuan Bukan Sumber Fitnah

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah grup emak-emak sempat kudapati cuitan salah seorang member. Cuitan beraroma curhatan seputar keseharian mereka lengkap termasuk aktifitas domestik dan publik khas emak-emak, yang berujung pada satu kesimpulan tentang perasaan perempuan. Perasaan  bahwa setinggi apapun karir perempuan, secerdas apapun seorang perempuan derajatnya tetaplah dibawah laki-laki. Sehingga membuat sebagian perempuan merasa apa yang telah diupayakannya seolah tak ada nilainya dimata kaum laki-laki.

Lagi masih dalam grup yang sama, mungkin karna kebetulan bertepatan dengan malam jum'at sehingga muncul bahasan tentang seks yang entah kenapa related dengan buku yang saat ini tengah kubaca. Salah satu member masih meyakini anggapan bahwa perempuan tidak boleh menolak ajakan suaminya sama sekali jika suami sedang menghendaki meski sedang diatas unta sekalipun. 

Wah saat itu juga rasanya ingin kusodori buku yang tengah kubaca, yang berjudul "Perempuan Bukan Sumber Fitnah". Namun segera kutahan, demi kuluapkan segalanya dalam ulasan ini. So demi menjawab kegelisahan kaum perempuan akan aku kulik salah satu buku rekomendasi bunyai Dr. Nur Rofi'ah Bil.Uzm.

Sekilas Buku Perempuan Bukan Sumber Fitnah

Masih dalam tema serupa dengan buku yang kemaren kurevew yaitu membahas seputar isu-isu perempuan. Buku ini didedikasikan untuk perempuan yang telah sekian abad lamanya mendapatkan stigma sebagai sumber fitnah. 
Perempuan seringkali seolah tidak berhak untuk memiliki cita-cita, tak seperti kaum laki-laki yang bebas ingin menjadi apapun dengan alasan khawatir menjadi sumber fitnah. Padahal dengan cita-cita tersebut perempuan bisa jadi memberikan kemaslahatan bagi keluarga, agama maupun bangsa. Pandangan tersebut dilandasi oleh konstruksi sosial juga teks-teks hadits yang ditafsiri secara parsial dan salah faham. 
Padahal jauh 15 abad silam islam hadir membawa ajaran dengan misi rahmatan lil alamin. Kehadiran islam telah merombak segala tradisi jahiliah yang timpang terhadap perempuan. Perempuan yang tadinya tidak diharapkan kelahirannya, dikubur hidup-hidup bayinya, nasibnya kian benderang pasca hadirnya Islam. 
Seharusnya jika keadilan terhadap kaum perempuan telah diperjuangkan sejak 15 abad silam, perempuan kini bisa menikmati visi Islam yang adil dan penuh kasih sayang tanpa memandang jenis kelamin. 

Sayangnya hingga detik ini, keadilan terhadap kaum perempuan masih menjadi PR besar. 

Lewat Buku Perempuan Bukan Sumber Fitnah, penulis mencoba memberikan gagasan tentang metodologi mengaji ulang teks hadits yang sering disalah fahami yaitu metode mubadalah. Pada bab awal buku ini mengulas istilah mubadalah, bagaimana perspektif mubadalah dalam relasi gender, kerja-kerja mubadalah, serta metode mubadalah dalam memaknai teks hadits. 

Pada bab kedua buku ini mengupas tentang hadits-hadits tentang jati diri perempuan yang selama ini disalah pahami seperti istilah separuh akal dan agama, perempuan tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, perempuan dinyatakan sebagai sumber kesialan, penduduk neraka terbanyak, akikah perempuan separuh laki-laki, perempuan haid dilarang masuk masjid, serta khitan perempuan.

Bab ketiga membahas tentang hadits basis partisipasi perempuan di ruang publik yang disalahpahami. Dan pada bab terakhir membahas hadits tentang relasi pasangan suami istri yang disalahpahami. Buku karya Pak Kyai Faqihudin Abdul Kodir ini yang sekaligus merupakan penggagas mubadalah.id meskipun terkesan bacaan berat, namun tak membuat nafsu baca emak-emak macam diriku kendor.  Dan dahagaku akan bacaan bertemakan perempuan pun akhirnya terpenuhi.

Identitas Buku

Buku Tentang Isu Perempuan


Judul : Perempuan Bukan Sumber Fitnah
Penulis : Faqihudin Abdul Kodir
Penerbit : Afkaruna
Halaman : xxviii+240
Tahun terbit : Agustus 2021
ISBN : 978-623-93728-8-0
Harga : 89.000

Insight 

Membaca buku ini benar-benar mencerahkan pandangan tentang eksistensi diri perempuan yang selama ini masih buram. Pikiran yang sempit kini terasa longgar. Tak bisa dipungkiri stigma tentang perempuan sebagai pembawa fitnah terkadang dilontarkan oleh tokoh-tokoh agama yang menafsiri teks masih belum seutuhnya. Tak jarang sebagian menafsiri sesuai dengan kepentingan sekelompok golongan yang tentu saja merugikan kaum perempuan. 

Membaca buku ini benar-benar telah memberikan banyak pelajaran berharga. Kegelisahan kaum perempuan atas eksistensi dirinya terjawab di buku ini. Banyak hal menarik yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Beberapa insight yang kudapatkan setelah membaca buku ini diantaranya :

  • Islam telah memberikan teladan real dari kalangan perempuan baik yang aktif di ruang publik maupun domestik. Khadijah r.a, Aisyah r.a, Asma bint Abu Bakar r.a, Sayyidah Nafisah, Nusaibah bint Ka'ab r.a, Ummu Salamah r.a, dan lainnya. Artinya sejak 15 abad silam ruang publik bukanlah milik kaum laki-laki semata, ruang publik sama-sama bisa diakses oleh laki-laki maupun perempuan dengan tujuan kemaslahatan. Jika pun perempuan tidak diizinkan aktif di ruang publik bukan semata-mata karna dia berjenis kelamin perempuan. 
  • Perempuan sudah sepatutnya mendapat perlakuan yang adil, baik dilingkup keluarga, agama, bangsa, dan negara. Mengingat realita yang hingga kini masih saja ditemukan perempuan yang diperlakukan tidak adil, suaranya tidak didengar, keputusannya dianggap tidak penting baik dilingkup keluarga, agama, bangsa dan negara. 
  • Dimata Tuhan (Allah) perempuan dan laki-laki adalah sama derajatnya, yakni sama-sama seorang hamba. Sehingga tidak sepatutnya salah satu diantara mereka saling mendominasi.
  • Allah tidak melihat rupa dan bentuk hambaNya, tetapi Allah melihat pada hati hambaNya.
Alhamdulillah meski dengan speed yang slow, akhirnya buku setebal 240 halaman habis dibaca juga. Meski terkesan bacaan berat, namun bab demi bab akan terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja. Akhir kata, benarlah sabda baginda, 
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa kalian dan tidak juga harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian". (Shahih Muslim juz 4 hal. 1987 no. 2564).
Kalian entah kaum adam maupun kaum hawa, aku rekomendasikan untuk baca bukunya ya. Dan silakan temukan insight lainnya di buku "Perempuan Bukan Sumber Fitnah".

Selamat membaca ..








Asasunnajah
Seorang ibu tiga anak yang sedang gemar belajar menulis dan berjualan online. _Salam silaturahim_

Related Posts

12 komentar

  1. Bukunya mencerahkan ya mbak, semoga jadi banyak yang terbuka persepsi nya tentang perempuan menurut Islam

    BalasHapus
  2. buku berat ya mbak ? kalau aku yang baca pasti butuf effort besar. Salut. dibikin kontent di medsos bagus mbak, biar ada value lebih dari sosok perempuan yang diangkat dari buku ini.

    BalasHapus
  3. Judul bukunya bikin penasaran banget nih, apalagi setelah membaca ulasannya Mbak Nafis. Semoga setiap kita semakin tercerahkan dengan ilmu tentang sosok mulia perempuan

    BalasHapus
  4. Jadi penasaran pengen tahu cara pandang beliau.
    Karena menurut saya, dengan meyakini hadits-hadits tentang perempuan yang tersebut di atas pun tidak mengubah cara pandang saya bahwa sebenarnya Islam memang memuliakan perempuan

    BalasHapus
  5. Islam sangat memuliakan perempuan, dan begitulah hingga akhir zaman.

    Adapun yang bersebrangan,mungkin dia menjadikan hadits dhaif sebagai rujukan.

    Menarik ulasannya mba Nafis, pengen baca bukunya aku.

    BalasHapus
  6. wah, keren banget bukunya. terlihat berat tapi penuh makna ya, mb. jadi tercerahkan setelah baca ulasan ini, apalagi baca bukunya langsung. pasti makain terang benderang.. makasih mb sudah mengulas buku ini, semoga perempuan tidak selalu dipandang sebelah mata dan remeh, ya.

    BalasHapus
  7. Aku baru checkout kapan hari buku ini, Mbak. haha.. Gara-gara kena racun rekomendasi dari bu Nyai Nur jugaaa. Stigma perempuan sebagai sumber fitnah dan sederet patriarki yang butuh entah berapa kali kita luruskan ya :3

    BalasHapus
  8. Sepertinya menarik ya bukunya walaupun sedikit berat..
    Bisa melihat pandangan orang lain tentang stigma perempuan..

    BalasHapus
  9. Smoga byk yg baca buku ini dan jadi paham, suka sebel sama oknum2 yg slalu nyalahin perempuan pdhal udah jdi korban

    BalasHapus
  10. Jadi penasaran sama bukunya mbak. Apalagi bahasan perempuan d ranah publik

    Semasa mahasiswa duku seringkali mendapatkan materi ini. Bahwa perempuan boleh kok di ranah publik dg catatan bla bla bla..kan aku jadi ingin sekali bisa mengetahui sejauh apa.

    Noted deh. Masuk list insya allah

    BalasHapus
  11. duh jadi membuka mata dan hati yang lagi tertimpa timpa nih mba hahaha
    aku jadi penasaran sama bukunya, memotivasi banget ni biar perempuan tetap tegak

    BalasHapus
  12. Tulisan ustaz Faqihuddin emang selalu bawa insight baru di tengah banyak berita yang sering menjadikan perempuan sebagai objek.. sudah masuk list to buy, tapi nggak tahu kapan bakal dibeli karena bacaan di rumah aja banyak yang masih belum tersentuh.

    BalasHapus

Posting Komentar