Asasunnajah header

Menyapih Anak Dengan Bahagia

9 komentar
cerita menyapih

Menyapih Anak Pertama

Tentang menyapih anak, setiap orang tua memiliki kisahnya tersendiri. Dahulu saat anak pertama masih ASI, sempat dibikin baper oleh cerita menyapih orang-orang yang nampak dramatis dan penuh intrik. Ada yang dengan cara memolesi PD dengan jejamuan, minyak-minyakan, dll. 

Aku pun mbatin jadinya, "Wah jangan-jangan nanti aku pun akan menghadapi drama serupa" 

Kekhawatiran yang kupendam sendirian ini, qodarullah dijawab lewat sariawan yang melanda anak pertama dimana saat itu masih usia sebelas bulan. Usia yang pada umumnya belum waktunya untuk disapih. 

Namun selama seminggu sariawan, selama itu pula dia menolak ASI. Hingga pasca sembuh dari sariawan dia masih lanjut menolak ASI. Ya sudah ambil hikmahnya saja, barangkali memang inilah jalan menyapih anak pertama yang alhamdulillah Allah mudahkan.

Menyapih Anak Kedua

Sebagaimana dengan menyapih anak pertama, pada anak kedua lagi-lagi tidak ada drama yang berarti dalam prosesnya. Namun, menyapih kali ini terpaksa dilakukan diusianya yang ke 18 bulan, lantaran berbarengan dengan usia kehamilan anak ketiga yang telah menginjak lima bulan.

Saat itu entah kenapa anak kedua sempat mengalami diare dan berat badan yang tidak proporsional di usianya, seiring dengan membuncitnya perut emak, barangkali kualitas ASI tidak sebagus sebelumnya. 

Saat itulah kumemutuskan untuk menyapih saja, dan alhamdulillah prosesnya pun hanya dua hari itu pun tanpa drama yang berarti. Lagi-lagi alhamdulillah aku tidak perlu menghadapi momok yang sering diceritakan. Ya walaupun disisi lain harus mengalami kisah kesundulan kata orang-orang.

Menyapih Anak Ketiga

Lain cerita dengan anak pertama dan kedua, kisah proses menyapih anak ketiga kali ini lumayan banyak episode. Sebenarnya dua bulan sebelum usianya genap dua tahun, hampir tiap malam tak lepas sounding. 

Namun karakternya yang berkemauan keras dan berpendirian kuat, dua bulan sounding rupanya belum cukup mematangkan kesiapannya. So aktifitas sounding pun masih terus dilakukan. Hingga alhamdulillah, ikhtiar pun berbuah manis. Kebiasaan nenen dalam kendaraan saat jelang tidur berhasil dihentikan.

Tinggallah perjuangan selanjutnya yaitu menghentikan kebiasaan nenen jelang tidur siang dan malam, karna sisanya sudah tidak ada nenen lagi. Sebagai ganti ia telah dibiasakan minum air putih, susu coklat atau teh menggunakan gelas saat bangun tidur atau saat haus, jadi no ngedot club sejak dini.

Tantangan yang berlaku hanyalah menghentikan kebiasaan nenen jelang tidur. Hingga tibalah diusianya yang ke 30 bulan, ada momen mengASIhi yang membuatku agak trauma. Seringkali saat ia telah lelap, geliginya menggigit puting hingga lecet lagi susah dilepas. Sungguh sakitnya membuat tekadku untuk menyapih makin bulat, apalagi usianya sudah dua setengah tahun. Ibarat jajan sudah melebihi tanggal kadaluarsa.

Malam pertama menyapih dimulailah drama tangisan yang menyayat yang berlangsung dari pukul 11 hingga  berakhir terlelap dipundak sang ayah pada pukul nol nol lebih. Tentu saja setelah sebelumnya melewati hujan sugesti tiada henti yang direspon dengan erangan tangis.

Esoknya jelang tidur siang terpaksa masih kelepasan nenen walau hanya sebentar, lantaran emak sudah tidak sanggup untuk main drama-dramaan pasca melekan. 

Malam kedua jelang tidur masih merespon sugesti dengan erangan, mungkin berlangsung kurang dari 30 menit. Selanjutnya alhamdulillah dengan jurus seribu rayuan bonus solawatan non stop akhirnya berhasil juga tidur tanpa nenen.

Dan saat cerita ini ditulis tepatnya pada malam ketiga alhamdulillah, saat kuintip dari balik pintu kamar, rupanya ia telah berangkat tidur disisi kakaknya dengan cool. Sugesti yang dibisikkan malam-malam sebelumnya walaupun diiringi dengan tangisan, rupanya merasuk juga. 

Disinilah The Power Of  Hypnoparenting bekerja, saat kumenulis cerita ini pada pukul 23:55 saat sidoi terbangun, ia tidak lagi minta nenen tapi minta mimi coklat, dan yang membahagiakan setelah tunai hajatnya ia kembali mapan dengan meninggalkan senyuman. Akhirnya berakhir pula cerita tentang mengASIhi dengan bahagia, tanpa terasa aku pun terharu. Huhu .. bayiku sudah tak lagi bayi.

Sebagai catatan, point penting dalam menyapih anak adalah kerjasama dengan pasangan. Sebab tanpa uluran tangan pasangan rencana menyapih akan semakin panjang jalan ceritanya. Selain tekad yang kuat jangan lupa siapkan energi ekstra jugan kesabaran tiada tara untuk menghadapi hari-hari pertama yang mungkin akan terasa berat.

Sekian cerita tentang menyapih anak dengan bahagia dariku, semoga ada yang bisa diambil manfaatnya. 


Asasunnajah
Seorang ibu tiga anak yang sedang gemar belajar menulis dan berjualan online. _Salam silaturahim_

Related Posts

9 komentar

  1. Ini PR banget buat istri saya. Ketiga anak saya menyusu lebih dari 3 tahun... Ternyata weaning with love itu susaaaah banget.
    Tapi efeknya mereka jadi deket sama ibunya... Sampe ayahnya suka iri

    BalasHapus
  2. Beberapa pengalaman menyapih anaknya ada yang mirip dengan keluarga saya. Anak ketiga di keluarga kami pun pemberian ASI-nya tidak ful 2 tahun karena keburu hamil anak ke empat. Trus anak kedua (perempuan) lumayan drama di malam pertama proses sapih, nangis-nangis bombay, disitulah peran ayah membantu menenangkan, baik anaknya maupun ibunya

    BalasHapus
  3. wah aku akan mengalami ini 5 bulan lagi insya allah. anak keduaku bakal lulus meng-ASI selana 2 tahun masya Allah. huhuuhuhu betul ini butuh kerjasama anatara pasangan sih ..

    BalasHapus
  4. Menyapih anak bisa menjadi drama tersendiri kalau ga betul-betul menyikapi dengan baik. Bagian yang memang harus ada, bagian tega. Kenapa terus-terusan disapih? Karena ornag tua ga tega, al hasil sampai lebih dua tahun.

    Kalau di rumah, saat menyapih, anak-anak saat bangun malam langsung dipertemukan dengan minum air. Karena dia tau ada sesuatu yang agak pahit baginya, biasanya dikasih kunyit :D, jadi ga mau lagi. Jadi main sugesti.

    BalasHapus
  5. Aku belum pernah ngerasain si mba, tapi kalau denger ceritanya emang kadang beda-beda cara dan perjuangannya. Terus kalau mau nyapih emang perlu tekad ya nggak cuma anaknya tapi ibunya juga. Kadang ibunya nggak tega jadilah gagal usaha menyapihnya. Dan dukungan dari pasangan memang jadi salah satu kunci keberhasilannya.

    BalasHapus
  6. sounding dan doa bisa jadi kurus ampuh juga ya mbak. dan Masha Allah perjuangannya mbak, nananina ya berujung bahagia .... salut aku tu mbak sama ibu hamil yg masih punya tanggungan menyusui tetap strong, ulasan yg membangun. barakallah ya mbak, ....

    BalasHapus
  7. Masya Allah mba, aku pun jadi ikutan tersenyum baca tulisannya. Ikut terharu dan bangga sama perjuangannya mba yang berujung bahagiaa..

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah udah lewat semua. Kebayang dilemanya waktu harus nyapih. Antara tega nggak tega.

    BalasHapus
  9. Jadi inget waktu mama aku nyapih adik-adiku. Kasian tapi gimana lagi mereka sudah harus lepas dari ASI. Macam-macam deh caranya, dibalur dari tanaman pait sampai dikasih warna merah.

    BalasHapus

Posting Komentar