Asasunnajah header

Selidiki Kenapa Anak Berani Mencuri

8 komentar
Mengatasi Anak Yang Berani Mencuri


Suatu ketika seorang guru mendapat laporan kehilangan uang dari ketua kelas. Peristiwa yang hampir tidak pernah terjadi selama ini. Satu kali mendengar laporan tidak begitu jadi masalah. Yang menjadi masalah laporan kehilangan kembali datang bahkan lebih dari tiga kali dengan nominal yang semakin bertambah.

Anak-anak, mereka sudah punya firasat tentang siapa pelakunya. Mereka juga sempat mengetes dengan meletakkan uang di tempat terbuka. Dan, hasilnya mengejutkan ... Persis seperti dugaan anak-anak. 
Kini, telah jelas siapa pemain utama dibalik peristiwa kehilangan uang selama ini. Seorang anak baru yang istimewa dan spesial. Namanya Sisi.
 

Menyelidiki Penyebab Anak Mencuri     

Menghadapi kasus ini, sebagai guru yang berusaha untuk bersikap bijaksana tentu saja tidak serta merta mengambil tindakan dengan menghukum Sisi. Sebab ia melakukan tindakan tidak terpuji ini tentu saja ada sebab dan alasannya. Karenanya bu guru menyelidiki penyebab Sisi berani mengambil uang temannya.
 
Sebelumnya ketua kelas telah mengintrogasi Sisi dengan sedikit mengancam akan dikeluarkan dari sekolah apabila tidak mengakui perbuatannya, akhirnya ia mengakui perbuatannya. 

"Benar, aku telah mengambil uang si X dan Z, lantaran mereka sering julid dan pamer." kata Sisi.
 
Sikap Sisi yang mau mengakui perbuatannya tentu saja mendapat apresiasi dari bu guru. Namun selidik punya selidik, Sisi yang spesial dengan fisiknya rupanya pernah memiliki masa lalu sebagai korban bullying.

Perlakuan tetangga, teman-temannya bahkan kerabat dekat sendiri yang kerap menghujaninya dengan label negatif, telah turut menyumbang karakternya yang suka skeptis dan sarkas. Belum lagi faktor masalah ekonomi yang sempat menghimpit keluarganya yang turut mendukung. Sehingga menganggap seolah semua teman-temannya jahat terhadapnya, padahal tidak selalu demikian.

Akar Masalah

Setiap anak yang dilahirkan sesungguhnya memiliki fitrah yang baik, tak terkecuali Sisi. Lingkunganlah yang telah membangun karakter Sisi menjadi demikian. Kekurangan yang melekat di fisiknya, apapun bentuknya tidaklah dibenarkan jika dijadikan sebagai bahan olok-olok/bullying.

Perlakuan bullying yang ia terima di masa lalu telah mengakar kuat di otak bawah sadarnya, yang akhirnya menjadi pondasi mental blok yang membuatnya selalu merasa tidak diterima di lingkungannya bahkan dirinya sendiri.

Tindakan

Setelah mengetahui akar masalahnya bu guru akhirnya membuat kesepakatan kelas :
  • Pertama menghentikan tindakan bullying apapun bentuknya baik verbal maupun non verbal. 
  • Kedua setiap anak harus saling mengasihi dan berbagi. Sebab setiap kenikmatan yang diterima oleh manusia pasti bersanding dengan hasud. Maka berbagi adalah jalan untuk menghindarkan diri dari hasud.
Dari kisah ini setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa diambil :
  • Pertama, anak-anak sebagai makhluk sosial ia juga memiliki kebutuhan psikis yang harus dipenuhi. Penerimaan orang tua terhadap diri anak akan sangat berpengaruh terhadap pembawaan dirinya di lingkungan sosial. Karena itu apapun keadaan anak, terimalah ia dengan seluruh jiwa dan raga. Penting untuk menaruh kepercayaan pada anak, agar kepercayaan dirinya makin tumbuh dan kuat.
  • Kedua, selain kebutuhan psikis anak-anak juga jangan sampai tidak terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan yang telah tercukupi akan membuat anak tidak merasa kekuarangan. Sebaliknya jika kebutuhannya kurang tercukupi dari orang tua, maka ia akan mencari dari orang lain dengan caranya.
Wallahu a'lam. 



Asasunnajah
Seorang ibu tiga anak yang sedang gemar belajar menulis dan berjualan online. _Salam silaturahim_

Related Posts

8 komentar

  1. perlu diberi pengertian secara perlahan agar anak bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi :D

    BalasHapus
  2. Ngeri banget dampak dari perundungan ini, sampai anak berkembang menjadi pribadi yang sarkas dan skeptis. Sayangnya, bullying banyak dilakukan oleh orang yang secara zahir dekat dengan si korban, ya

    BalasHapus
  3. Wah aku pernah baca juga sih kebanyakan "anak menyimpang" adalah karena pernah mengalami bully dan label negatif. Sayang banget ya :( padahal fitrah anak itu baik dan penyanyang serta nurut. Ini pelajaran berharga banget untuk kita. Dan lagi step by step menghadapinya juga bermanfaat untuk teacher yang mengalami kasus sama :')

    BalasHapus
  4. Terkadang motivasi mengambil barang yang bukan miliknya itu sederhana: agar mendapatkan perhatian dari guru dan orangtua nya...
    Di sini peran orang tua sangat besar untuk memberikan suasana nyaman pada anak...

    BalasHapus
  5. Sedih sekali mendengar kisah-kisah korban perundungan seperti ini. Tapi di sisi lain, Sisi sangat beruntung karena mendapatkan intervensi dan support ketika dia masih anak-anak. Tak terbayangkan jika hal ini dibiarkan hingga dewasa, tentu sulit sekali untuk merubahnya.

    BalasHapus
  6. Ya Allah, sedih rasanya mengetahui anak pernah menjadi korban bulliyinng dan keluarganya tidak memberi perlindungan.
    Perilaku yang menyimpang akibat bulliying terjadi karena hilangnya peran keluarga. Namun ada juga perilaku mencuri terjadi karena kesalahan orangtua yang 'membenarkan' perilaku tersebut secara tidak sengaja.. sehingga lama-lama anak akan terbiasa.

    BalasHapus
  7. Dan ada banyak Sisi Sisi di luar sana ya, yang melakukan perbuatan tidak terpuji karena alasan tertentu

    BalasHapus
  8. Lingkungan negatif emang bikin serem. Apalagi kalau sudah sampai terpatri di kepala anak trus tumbuh kembang mentalnya jadi terganggu. Huhu nggak kebayang deh, posisi Sisi saat itu. Pasti sakit banget. Semoga nggak ada kasus bulliying lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar