Asasunnajah header

Mengatasi Tantrum Dengan Teknik Time Out

14 komentar
Mengatasi Tantrum Dengan Teknik Time Out

Alhamdulillah .. baru saja si bungsu terlelap setelah melewati drama tantrum. Mengamati si bungsu yang akhir-akhir ini sering cranky (mungkin karna pasca disapih kali ya) aku jadi teringat sebuah teknik untuk menenangkan anak tantrum yaitu "time-out".

Pertama kali membaca istilah time-out kira-kira sekitar 7 tahun silam, tepatnya saat masih mengajar di sebuah lembaga swasta di Surabaya. Di lembaga itu tiap kelas terdapat time out area di satu sudut. 

Saat itu aku masih belum begitu paham maksud dari time out area. Namun di lain waktu saat aku mengajar di lembaga yang berbeda, aku menemukan sebuah buku parenting yang membahas tentang "time-out".

Disinilah aku mulai mencari tahu lebih banyak tentang time-out.

Time Out Dalam Dunia Parenting

Time Out Adalah

Istilah time-out dalam dunia parenting adalah cara untuk mengendalikan kemarahan dan menghentikan perilaku buruk anak dengan memberikannya kesempatan untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali perbuatan yang dilakukannya.

Membiarkan anak melakukan perbuatan buruk di depan kita, membuatnya merasa bahwa tindakannya diperbolehkan, bahkan didukung orang tuanya.

Istilah time-out sendiri sudah mulai dikenal sejak tahun 1950-an oleh seorang psikolog bernama Arthur Staats. Saat itu, Staats mengembangkan metode ini untuk menangani anak-anak bermasalah yang sulit untuk dikendalikan.

Pada prinsipnya, teknik ini dilakukan dengan memindahkan anak dari suatu situasi yang membuat perilakunya tak terkendali ke situasi lain yang tenang. Biasanya, ada satu lokasi khusus di rumah yang dipilih untuk menjadi lokasi time-out. Misalnya seperti anak mengamuk saat tidak diberi gadget. Orang tua bisa meminta anak masuk kamar selama beberapa waktu untuk menenangkan diri.

Nah untuk kasus yang terjadi pada bungsuku tadi, ia mengamuk lantaran sesungguhnya ia sudah ngantuk tapi  tidak berkenan peraduannya dipasang bed cover sama kakaknya. Jadi sebenarnya simpel, pingin tidur dengan kondisi kasur sebelum ditumpuk sama bed cover.

Namun apa mau dikata, emosi kadung meledak tangis pun pecah berkeping-keping. Beberapa kali mengeluarkan jurus rayuan, belum mempan juga. Ouh berarti ia butuh waktu untuk menuntaskan tangisnya dan menenangkan diri.

Akhirnya kubiarkan ia menangis di kamar bersama kedua kakaknya, beruntung suara tangisnya yang lumayan memekakkan telinga tak membangunkan kakak keduanya yang telah lebih dulu lelap. Barangkali ia telah tenggelam dalam mimpi setelah sesiangan nggak ngecharge sama sekali. Sementara si sulung sibuk dengan dunianya sendiri, setelah gagal menjadi team SAR.

Aku pun melenggang keluar kamar untuk memberikan kesempatan menenangkan diri sambil menantikan perkembangan tangisnya. Sembari menanti kumelanjutkan sisa muroja'ah yang tertunda. Selang bermenit rupanya tangis belum kunjung reda, ia bahkan melakukan aksi buka tutup pintu dengan sedikit dibanting seraya meraung memanggil-manggil "ibuuuuu ...".

Kucoba untuk merespon aksinya dengan membuka pintu, namun ia tahan dari dalam dengan kekuatan maksimal tangan mungilnya. Sementara itu dari balik pintu nampak cairan kuning mengambang rupanya ia pi*is di tempat. 

Demi menghindari insiden terpeleset yang membahayakan dirinya, aku pun inisiatif mengambil gombal untuk mengelap genangan seni sebelum mengevakuasinya menuju kamar mandi. Setelah itu kembali kudorong pintu perlahan dan mengangkat tubuhnya dengan kondisi rok yang basah oleh air seni menuju kamar mandi. 

Alhamdulillah ia sudah mau ditolong, artinya emosinya mulai reda. 

Kenapa Menggunakan Teknik Time Out?

Aku teringat akan satu hal, dalam metode hypnoparenting tidak disarankan untuk memberikan sugesti pada saat anak dalam kondisi marah. Karena pada saat marah bagian otak reptil sedang bekerja yaitu otak yang berfungsi untuk mempertahankan diri. Sedangkan otak yang berfungsi untuk berfikir dan mengolah informasi yaitu otak neokorteks non aktif alias tidak bekerja. 

Disinilah mengapa menggunakan teknik time out lebih efektif :

Pertama karena jika kita menghadapi anak yang tantrum dengan cara menghakimi atau bahkan dengan marah-marah hal ini tidak akan memperbaiki keadaan. Justru sebaliknya, keadaan akan semakin parah. 

Kemarahan orang tua justru akan memancing anak untuk menahan dirinya bahkan melawan. Dengan memperhatikan kinerja otak, maka cara efektif untuk mengatasi anak tantrum adalah dengan membuat anak tenang terlebih dulu.

Dengan begini akan menonaktifkan otak reptil anak (tidak ada perlawanan) sehingga arus informasi menuju otak neokorteks terbuka. Setelah itu barulah mengkomunikasikan pesan yang ingin disampaikan ke anak. 

Dalam menghadapi kasusku tadi, setelah si bungsu reda dan tenang dari ledakan tangisnya aku mulai melakukan pillow talk. Aku teringat masa-masa ini adalah golden time untuk memberikan sugesti positif.

Jadi sebelumnya aku minta maaf dulu ke anak dengan mengajak bersalaman kemudian mencium tangannya. Setelah itu barulah kubisikkan kalimat-kalimat andalan yang mewakili harapan akan perilaku baik dari si bungsu di masa yang akan datang. Kulakukan berulang-ulang sambil mengelus dan memijat lembut kepalanya terkadang juga menghujaninya dengan ciuman dan bisikan sayang.

Alhamdulillah ... tak lama berselang ia sudah tenggelam dalam impian. Aku pun bisa beraksi untuk merealisasikan rencana menulis cerita ini.

Kedua karna ledakan emosi dan sikap buruk anak yang tidak ditangani dengan benar akan menyebabkan masalah yang lebih kompleks ketika anak-anak beranjak remaja dan dewasa. 

Manfaat Teknik Time Out

Tahukah bunda? Menghadapi anak tantrum bisa saja menjadikan orang tuanya ikut tantrum jika tidak persiapan stok sabar. Karena itu salah satu manfaat dari teknik time out adalah selain memberikan waktu untuk menenangkan diri pada anak, saat itu juga orang tua pun jadi lebih bisa mengendalikan emosi.

Sehingga setelah sesi time out selesi orang tua dan anak pun bisa berdiskusi dengan kepala dingin.

Thats pengalamanku menerapkan secuil dari teknik time-out, semoga bisa diambil manfaatnya. Gimana dengan pengalaman bunda menghadapi anak tantrum? Sharing yuk ..






Asasunnajah
Seorang ibu tiga anak yang sedang gemar belajar menulis dan berjualan online. _Salam silaturahim_

Related Posts

14 komentar

  1. Wah, bisa dicoba nih metode time out.... Anak-anakku belum pernah sih mengalami tantrum yang parah. Paling cuman nggondok sebentar. Makasi ya ilmunya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama dokter, kebetulan lagi berada di masanya.

      Hapus
  2. Tapi untuk sesi time out gini harus diperhatikan juga nggak sih mba? Takutnya kalau anak dibiarkan sesi time out sendiri, kalau kenapa-kenapa dan anaknya malah jadi makin interaktif kan bahaya juga yaaa dengan kondisi yang lagi tantrum begitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya under pengawasan ya mbak, jadi setelah diberikan waktu sekitar 10 menit untuk menuntaskan marah dan memikirkan perilaku buruknya selanjutnya adalah sesi komunikasi untuk memberikan pesan-pesan nilai kebaikan yang diharapkan di masa yang akan datang agar perilaku serupa tak terulang lagi.

      Hapus
  3. Yg paling penting dan ga boleh ketinggalan saat menerapkan cara ini harus tetap dgn pendampingan ya, jdi anak jangan smpe merasa diabaikan atau tdk diakui perasaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mam pastinya, pada intinya memberikan anak waktu untuk meluapkan marahnya dan memikirkan perilakunya, dan waktunya pun ada patokannya. Sekitar 10 menit cukup untuk menenangkan diri.

      Hapus
  4. Sepakat banget sih, agar lebih mindful memang biasanya beri jeda anak untuk marah dulu atau nangis dulu. Karena kalau langsung ditanggapi, based on pengalaman hahaha emaknya ikut marah. So, kalau emaknya udah calm down, bisa lebih memeluk si anak, mendengarkan si anak dan sudah netral emosinya. Ya pasti semuanya under pengawasan saat time out. suka ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes mam, bener akhirnya rantai marah tidak terputus.

      Hapus
  5. Time out tuh ada tempat-tempat khusus gak si mba? Pernah denger kisah artis atau siapa gitu, jadi siapin satu ruangan khusus buat anak tantrum. Kalau pas tantrum ya dibawa ke sana biarin ngeluarin emosi sambil tetap diawasi, kalau udah mendingan baru boleh keluar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di buku yang aku baca untuk praktek time out di rumah memang kudu sedia ruang khusus untuk tempat anak menenangkan diri. Tapi ruangan ini juga bisa menggunakan kamar tidur. Intinya biarkan anak menyendiri dulu gitu.

      Hapus
  6. Oh yayaa kok sama sih kasus kita. Apa karena anak kita seumuran yaa.. Tapi bedanya aku yg lagi tantrum no 2..masa terrible two yang wow!

    Boleh kucoba metodenya mbak Nafis, makasih sudah berbagi.

    BalasHapus
  7. Aku belum pakai nih metode time out. Yang ada emaknya meng time out kan diri sendiri, hehe

    BalasHapus
  8. Oh jadi istilahnya time out, selama ini cuma tahunya mengalihkan aja. Hehe. Ternyata ada bahasa kerennya

    BalasHapus
  9. Bener banget mbak. saat ponakan tantrum aja aku ikutan panik lah :3
    Bisa dicoba nih tekniknya. makasih ya mbak

    BalasHapus

Posting Komentar