Asasunnajah header

Mengenali Perilaku Bullying dan Tindakan Pencegahannya

17 komentar
Mengenal Perilaku Bullying Dan Pencegahannya

Membahas tema bullying rasanya nggak ada basinya ya mom, meski sudah sering dan banyak dibicarakan di berbagai tempat. Salah satu alasan kenapa tema ini masih related untuk dibahas adalah karna sampe detik ini perilaku bullying masih terjadi. Dan jangan-jangan kita termasuk bagian dari pelaku atau korban bullying. Mana suaranya yang pernah jadi korban bullying?

Mencegah Bullying Dari Lingkungan Keluarga

Kemaren saya menyimak sharing dari salah satu grup support para mommy di whatsapp, namanya Fun With Mommy. Walaupun nyimaknya nggak live alias telat tapi alhamdulillah bersyukur banget bisa mendapatkan pelajaran berharga dari sharing dengan judul diatas. Makanya saya tulis hasil sharingnya sesuai daya tangkap saya disini supaya bermanfaat untuk orang banyak.

Tahu nggak mom, rata-rata para member pernah menjadi korban bullying lho. Wow ... itu artinya kita tidak sendirian. Nggak sia-sia menjadi member Fun With Mom meski masih suka silent reader di grup ini. Rasanya jadi nambah spirit dan power emak ramping nih.

Balik lagi ke topik utama ya mom, setelah manjat-manjat grup, lumayan juga membuat pengetahuan saya bertambah lagi. Perilaku bullying ternyata merupakan fenomena yang terjadi sejak dulu, dan sudah menjadi obyek penelitian sejak tahun 1970-an (Shariff, 2008:10). 

Dan yang menyedihkan menurut data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) kasus bullying banyak terjadi pada anak. Setiap hari ada 160.000 murid yang bolos sekolah karena takut di-bully. Sedih nggak mom? Sedih lah 

Setelah berkali-kali mendengar kata bullying apakah kita sudah tahu pengertian bullying itu? Jangan-jangan belum nih. Biar nggak salah paham coba baca terus sampai akhir ya mom.

Pengertian Bullying

Bullying (dikenal sebagai "penindasan/risak" dalam bahasa Indonesia) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau kelompok orang (yang lebih kuat atau berkuasa) terhadap orang lain bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

Artinya orang-orang disekitar kita baik keluarga, teman, tetangga yang (mungkin mereka merasa nggak sengaja) sebenarnya sengaja dan bertujuan menyakiti korban. 

Bentuk-Bentuk Bullying

Selama ini mungkin kita memahami bullying sebatas perilaku verbal ya mom. Tapi ternyata perilaku ini nggak hanya dalam bentuk verbal aja lho. Setidaknya ada 4 jenis bentuk bullying :
  • Bullying verbal
Bullying dalam bentuk verbal berupa celaan, fitnah, atau penggunaan kata-kata yang tidak baik untuk menyakiti orang lain.
  • Bullying fisik
Bullying fisik ini sesuai dengan namanya merupakan perilaku bullying yang berupa pukulan, menendang, menampar, meludahi atau segala bentuk kekerasan yang menggunakan fisik. 
  • Bullying relasional
Bullying ini berupa pengabaian, pengucilan, cibiran, dan segala bentuk tindakan untuk mengasingkan seseorang dari komunitasnya.
  • Cyber Bullying
Adalah segala bentuk tindakan yang menyakiti orang lain dengan sarana media elektronik (rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik lewat media soisal)

Setelah tahu bentuk-bentuk bullying, saatnya kita evaluasi diri manakah yang pernah kita lakukan terhadap anak? Dan manakah jenis bullying yang pernah kita terima? 

Jika tidak satupun alias tidak pernah melakukan kekerasan pada anak berarti alhamdulillah ya mom. Artinya anak-anak tidak menanggung luka batin masa kecil atau innerchild. Jika pernah lalai, berarti saatnya kita akhiri kebiasaan buruk melukai anak dan saatnya untuk berbenah diri memperbaiki komunikasi dan pola asuh. 

Andaikan kita pernah menjadi korban bullying saatnya kita putus mata rantai kekerasan mulai dari diri sendiri. Cukuplah menjadikan pengalaman tersakiti di masa lalu sebagai pelajaran untuk tidak menyakiti orang lain. Walaupun prakteknya pasti tidak mudah dan penuh tantangan ya mom. 

Barangkali sabda Nabi berikut bisa dijadikan pengingat diri, 
"Orang kuat bukanlah orang yang sering menang berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah."

Karna kesempurnaan seorang muslim bisa dilihat ketika dia bisa menjaga tangan dan lisannya, bahkan terhadap orang selain muslim sekalipun. Sehingga orang lain akan merasa aman dari dirinya. Artinya perilaku bullying tidaklah mencerminkan perilaku seorang muslim ya mom. 

“Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

Komunikasi dan Keharmonisan Kunci Pencegahan  

Mengingat dampak perilaku bullying yang begitu dahsyat, nggak hanya luka batin yang menaun, kesehatan mental yang buruk, bahkan pada level tertentu bisa mengakibatkan tindakan pembunuhan, na'udzubillah. So ada baiknya kita kenali keluarga yang rentan terhadap bullying berikut :
  • Keluarga yang hubungan rumah tangga orang tuanya tidak harmonis dan diperlihatkan kepada anak.
  • Keluarga yang memiliki komunikasi yang kurang 
Dari dua poin diatas bisa kita tangkap bahwa komunikasi dan hubungan keluarga yang harmonis adalah kunci utama untuk mencegah perilaku bullying. Karena itu sudah saatnya kita stop perilaku bullying mulai dari lingkungan keluarga dengan menerapkan perilaku berikut :
  • Ajarkan cinta kasih antar sesama
  • Buat kedekatan emosional dengan anak
  • Membangun rasa percaya diri anak
  • Memupuk keberanian dan ketegasan
  • Kembangkan kemampuan sosialisasi anak
  • Ajarkan etika terhadap sesama
  • Berikan teguran mendidik jika anak melakukan kesalahan
  • Tanamkan nilai-nilai keagamaan
  • Dampingi anak-anak untuk menyerap informasi
  • Jadilah panutan untuk anak kita
Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang suka dibully dan percayalah semua orang suka diapresiasi. 
Stop bullying, sekian.
Asasunnajah
Seorang ibu tiga anak yang sedang gemar belajar menulis dan berjualan online. _Salam silaturahim_

Related Posts

17 komentar

  1. Unfortunatelly Indonesia nomor satu ya yang melakukan cyber bullying. PR orang tua bertambah nih agar anak-anak sehat dan bijak berinternetan agar tidak jadi pelaku atau korban perundungan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener pak yonal, sebagai orang tua tentu tidak selamanya akan berada disisi anak secara fisik, jadi kudu ngasih bekal ke anak-anak sejak dini. PR besar.

      Hapus
  2. Ech... Kita sama nulis tentang bullying. Alhamdulillah bisa saling melengkapi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bund, kebetulan sebelum nulis ini abis nyimak sharing tentang bullying.

      Hapus
  3. Sebagian bully yg terjadi di sekolah, salah satu sebabnya adalah ada perlakuan yg sudah dianggap hal biasa oleh anak...ini bener bener PR besar buat kita semua.
    Perlu kerjasama semua pihak
    Dan tulisan ini bisa menjadi jalan sebagai upaya pemberian pemahaman kepada mereka yg suka melakukan bully

    BalasHapus
  4. Ngeri banget ih datanya bahwa bullying banyak di sekolah :( peran ortu krusial bgt buat ndidik anak untuk jadi generasi anti pembuli ya. Dan punya self defence saat menghadapi org yg krg bertanggung jawab baik sikap maupun omongannya.

    Semoga Indonesia lebih membaik dan pelajaran pendidikam karalter lebih menonjol dari pada pendidikan lain kaya Math dll :(

    BalasHapus
  5. Betul mom, tanpa disadari kadang pelaku bullying terdekat adalah keluarga sendiri, begitu terus turun temurun bak warisan. Kenyataan yang menyedihkan. Semoga setelah banyak artikel yang mengangkat tema ini, kita menjadi mawas diri dan lebih memanusiakan manusia ya mom :)

    BalasHapus
  6. Aku paling ngeri kalau ngeliat erita tentang bullying ini di media. Langsung kepikiran anak-anak. Apalagi sekarang pembuliannya makin ngeri, duh duh semoga keluarga kita semua terhindar dariperilaku ini.

    BalasHapus
  7. Bullying verbal menjadi yang paling banyak dilakukan, karena biasanya tidak disadari terjadi karena bercanda yang kelewatan, atau bahkan gosip yang kelewatan, saking enaknya asal nyeplos. Padahal orang yang mendengar bisa jadi ada disebelahnya,

    BalasHapus
  8. kayaknya bullying verbal ih banyak yang tidak sadar kalau mereka sedang bullying ya mb. kadang mereka ga sadar kalo lagi nyinyir.. padahal hal itu termasuk dalam bullying verbal..

    BalasHapus
  9. Setiap baca tentang bullying otomatis inget zaman ngajar. Sedih banget karena pernah menangani langsung kasus bullying. Berapa banyak PR buat kita orang tua dan guru dalam masalah ini

    BalasHapus
  10. "...komunikasi dan hubungan keluarga yang harmonis adalah kunci utama untuk mencegah perilaku bullying."
    Ah, sepakat banget dengan kalimat ini. PR besar untuk semua keluarga untuk membangun hubungan dan komunikasi terbaik, agar tak lagi ada generasi bullying.

    BalasHapus
  11. Pernah jadi korban bullying verbal meski nggak parah amat, tapi aku berusaha menyembuhkan dan menerima biar nggak jadi korban berantai. Susah sih, tapi pasti bisa.

    BalasHapus
  12. Keluarga salah satu kunci terjadinya bullying ya mbak. Semoga kita selalu menjadi orang tua penyayang yang mampu membekali anak2 dengan kasih sayang juga, sehinga perundungan akan diminimalisir.

    BalasHapus
  13. Memang pemahaman tentang bullying ini perlu dikenalkan sejak dini, dalam lingkungan keluarga, dan diteruskan oleh pendidik di sekolah, karena saya melihat sendiri anak anak kecil ada yang sudah membully temannya, kita tidak ingin ini terjadi di anak kita pastinya.

    BalasHapus
  14. Statment terakhirnya mantep mba. emang bener kalau bullying ini sangat meresahkan, sebagai seorang guru yang sering ketemu anak-anak, aku merasa tips ini bisa digunakan tipis-tipis..

    BalasHapus
  15. Mantep betul tulisannya Mbak. Tanpa sadar biasanya emang orang terdekat yang sedang bully.

    BalasHapus

Posting Komentar