Asasunnajah header

Cerita Toilet Training Si 22 Bulan

15 komentar

Cerita Toilet Training

Cerita ini bermula pasca ikut sharing wag tentang minim sampah dari rumah yang digelar oleh book advisor fast team. Merasa sedih dengan sampah yang menumpuk dan bercampur di lahan sebelah, walhasil sharing ini menjadi lantaran hatiku tergugah untuk berhenti menyumbang limbah diapers dengan program toilet training untuk si 22 bulan. 

Alhamdulillah berbekal keyakinan dan support sistem, program ini bisa terealisasi dan tak dinyana si 22 bulan pun bisa lulus diluar perkiraan. Dan alhamdulillah lagi tidur malam pun kini sudah lepas diapers pun nggak ngompol.

Dulu aku seringkali mendapati bisikan mesra suami, "Sayang .. anak-anak jangan sering-sering dipakaikan diapers, itu akan mengurangi pahala," sebelum akhirnya kini menyadari sendiri maksud dibalik bisikan itu. Memang benar, menjadi seorang ibu itu mudah sekali untuk mencari pahala meski hanya dengan di rumah. Semakin lelah maka pahala semakin besar, dengan catatan kelelahan diiringi dengan keikhlasan ya bund ... 

Memiliki balita saat ini sulit sekali untuk tidak bergantung pada diapers. Diapaers seolah telah menjadi barang yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan emak ramping. Dengan mengenakan diapers maka akan mengurangi sedikit beban seorang ibu dalam mengurus balitanya. Setidaknya kelelahan akibat membersihkan kotoran seni dan tinja yang berceceran terminimalisir. 

Namun kabar buruknya penggunaan diapers secara intens, tak terasa membuat kita turut serta menyumbang limbah. Bayangkan jika sehari menggunakan diapers 3 kali, kira-kira sebulan bisa menyumbang berapa limbah diapers? Silakan hitung sendiri ya. Selain itu sebenarnya tanpa sadar kita juga menjadi ketergantungan dengan benda itu, dan silakan hitung sendiri pengeluaran khusus untuk membeli benda tersebut. 

Lama-lama aku jadi menyadari bisikan mesra suami yang sedikit mengandung saran dan kritik untukku. wkwkwk Ok, next aku akan ceritakan tentang apa saja persiapan yang perlu dilakukan saat menjalankan program ini. 

1.Persiapan Mental

Penting sekali bagi seorang emak yang ingin menjalankan program ini untuk mempersiapkan mental terlebih dahulu. Mantapkan hati dan siapkan diri untuk menghimpun tenaga extra untuk mendampingi si kecil bilamana sewaktu-waktu kelepasan pup atau buang air tidak pada tempatnya. Pastikan lingkungan keluarga juga turut mendukung. Dengan dukungan seluruh keluarga insya Allah program akan berjalan dengan mudah.

2. Sounding Jauh-Jauh Hari

Jangan salah, usia dua tahun kurang ternyata sudah bisa diajak sounding lho. Ini aku lakukan hampir setiap hari tiap kali nenen dan jelang tidur. Saat itu aku membisikan instruksi "adek mulai sekarang lepas pempers, jadi kalau buang air di kamar mandi ya .. " Pastinya dengan bahasa kromo sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. 

3. Sigap Membawa Ke Kamar Mandi

Pada minggu pertama lepas diapers biasanya akan ada beberapa insiden buang air sembarangan, tidak apa-apa ya bund. Moment ini bisa kita manfaatkan untuk memperhatikan berapa kali si doi buang air dalam sehari dan kapan saja waktunya. 
Sehingga bisa dijadikan acuan untuk hari berikutnya mengajak si kecil ke kamar mandi. Selain itu, jika tengah malam ada gejala si doi pingin buang air walaupun dalam kondisi setengah sadar ajak ia ke kamar mandi.
Biasanya signal itu ditunjukkan dengan rintihan atau ledakan tangis yang tiba-tiba. Pada saat itu gendong aja ke kamar mandi.

4. Belajar Dari Seniornya

Alhamdulillah dalam menjalankan program ini aku tak mengalami banyak insiden buang air sembarangan. Sesekali pasti ada ya kelepasan, tapi masih dalam batas wajar. Selain sangat kooperatif, mungkin juga sebelumnya ia telah banyak belajar dari kakanya (si tiga tahun) dimana ia kerap membuntutiku dan memperhatikan kakaknya yang sedang buang air di kamar mandi. Walhasil, memiliki anak dengan usia yang terpaut begitu dekat ternyata banyak sekali hikmahnya. Salah satunya si bungsu bisa belajar banyak hal secara langsung dari sesama balita. wkwkwk

Akhir kalam semoga cerita ini meski tidak runtut ada yang bisa dipetik hikmhanya.
Yang mau menambahkan tips, silakan share di kolom komentar ya ..
Sekian.


Asasunnajah
Seorang ibu tiga anak yang sedang gemar belajar menulis dan berjualan online. _Salam silaturahim_

Related Posts

15 komentar

  1. Seru ya waktu anak belajar toilet training. Bener-bener nguji kesabaran loh. Aku juga nerapin poin-poin yang di sampaikan di atas. Alhamdulillah gak yang susah banget sebenernya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang bikin agak maju mundur itu biasanya lingkungan yang kurang mendukung ya mbak ..

      Hapus
  2. Anakku yang nomor dua baru lulus dari diapers umur 3 tahunan, itu pun sekarang masih suka ngompolan, wkwk. Beda anak memang beda gaya yaa... ada aja yang selalu bisa dipelajari dari seorang anak.

    BalasHapus
  3. Anakku pertama kedua pakai diapers klo pas bepergian. Klo di rumah nggak pernah mau pakai. Klo yang bungsu, dipakaiin karena saya tinggal kerja dan di asuh orang lain. Tapi begitu toilet training pas di umur 2 tahun, dia langsung paham. Jadi ibu mudah pahalanya ya, karena salah satu modalnya adalah sabar tak terhibgga

    BalasHapus
  4. Aku masih PR banget nih mbaaa hikss. Baca ini jadi merasa punya temenn :)) semngatt teruss ibuukk

    BalasHapus
  5. Wah sungguh pak suami hebat sekali bisikannya. Suamiku malah bisikin, gpp pake diapers aja, drpda capek. Hehe. Gpp sih kalau berdua mau gantian TT nya. Anyway skrg diapers bisa di recycle juga mbak. Buat pot salah satunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, tinggal mau telaten apa enggak aja ya mengolah sampahnya hihi ..

      Hapus
  6. Alhamdulillah anak saya yang ketiga juga baru lulus toilet training. Usianya kini tiga tahun.
    Salah satu yang benar-benar harus siap sampai sekarang adalah seperti poin 3-nya Mbak Nafis, yaitu kita sebagai orang tua harus sigap mengantarnya ke kamar mandi manakala si anak mau buang air kecil atau buang air besar

    BalasHapus
  7. Toilet training adalah tahapan yang pasti akan dilalui oleh bayi/ anak. Kadang bisa jadi ujian yang berat bagi orang tua. Alhamdulillah ketiga anakku gak pernah punya masalah dengan toilet training.

    BalasHapus
  8. MasyaAllah.. secara tidak sadar ikut training waktu masanya kakak ya, mb. Anakku 3 tahun ini juga lagi proses TT, di tahap no diapers saat tidur siang dan malam. Kalo lagi tidur, udah no diapers. Bismillah, semoga segera lulus juga..

    BalasHapus
  9. Anak saya yang gede, 22 tahun yang lalu nggak bisa pake diapers. Kulitnya sensitif sama bahan diapersnya. Padahal udah pake yang bagusnya. Akhirmya mau gak mau toilet trainingnya sejak diniiii banget. (ketauan dah tuanya wkwk)

    BalasHapus
  10. Emang tantangan banget buat stop diapers ke bocil, apalagi saat musim hujan dingin2, jadi lebih banyak ngompolnya.

    BalasHapus
  11. wah memang semua hal itu ada ilmunya ya kak.
    terimakasih sudah sharing hal seperti ini bund. terlihat sederhana padahal pentingg banget ya

    BalasHapus
  12. Aku sering denger cerita drama ngajarin anak soal toilet training, dan ini tipsnya sangat membantu sekali mbaa..

    BalasHapus
  13. selamat ya mba, kesabaran dan ketelatenan yang berbuah manis, alhamdulillah mayan kan dana diapers nya bisa buat jajan somay, eeh...wkwkkwk

    BalasHapus

Posting Komentar